Dismenore adalah nyeri saat haid yang terasa di perut bagian bawah dan muncul sebelum, selama atau setelah menstruasi. Nyeri dapat bersifat kolik atau terus menerus. Dismenore timbul akibat kontraksi disritmik lapisan miometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari nyeri ringan hingga berat pada perut bagian bawah, daerah pantat dan sisi medial paha (Badziad A., 2003).
Dismenore adalah nyeri yang terjadi tanpa tanda-tanda infeksi atau penyakit panggul (Elizabeth J. Corwin, 2009). Menurut Arief Mansjoer (2001) nyeri menjelang atau selama menstruasi, dapat membuat wanita tersebut tidak dapat bekerja dan harus tidur. Dalam bukunya Manuaba (2001) menegaskan bahwa dismenore merupakan rasa sakit saat menstruasi sampai dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Klasifikasi
Menurut Arief Mansjoer (2001) berdasarkan jenis nyerinya, dismenore dibagi menjadi 2 :
1) Dismenore Spasmodik
Dismenore spasmodik yaitu nyeri yang dirasakan di bagian bawah perut dan berawal sebelum masa haid atau segera setelah masa haid mulai. Beberapa wanita yang mengalami dismenore spasmodik merasa sangat mual, muntah bahkan pingsan. Kebanyakan yang menderita dismenore jenis ini adalah wanita muda, akan tetapi dijumpai pula kalangan wanita berusia di atas 40 tahun yang mengalaminya.
2) Dismenore Kongestif
Dismenore kongestif yaitu nyeri haid yang dirasakan sejak beberapa hari sebelum datangnya haid. Gejala ini disertai sakit pada buah dada, perut kembung, sakit kepala, sakit punggung, mudah tersinggung, gangguan tidur dan muncul memar di paha serta lengan bagian atas. Gejala tersebut berlangsung antara dua atau tiga hari sampai kurang dari dua minggu sebelum datangnya menstruasi.
Menurut I.G.B Manuaba (2001) dismenore berdasarkan ada tidaknya penyebab yang dapat diamati dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Dismenore Primer
Dismenore primer yakni nyeri haid tanpa kelainan anatomis genitalis. Bentuk ini biasanya mulai 2-3 tahun setelah menarche dan mencapai maksimal antara 15 dan 25 tahun. Nyeri kram mulai 24 jam sebelum menstruasi dan mungkin bertahan selama 24-36 jam. Kram dirasakan pada abdomen bawah, tetapi dapat menjalar ke punggung atau ke permukaan dalam paha.
2) Dismenore Sekunder
Dismenore sekunder yakni nyeri haid yang disertai dengan kelainan anatomis genitalis yang jelas penyebabnya. Helen Varney (2008) menggambarkan dismenore sebagai rasa sakit menstruasi yang muncul setelah wanita mengalami siklus menstruasi tanpa adanya rasa sakit yang bermakna.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dismenore
Beberapa faktor yang mempengaruhi dismenore adalah:
1) Umur
Nyeri haid sering terjadi pada wanita usia muda, karena belum mencapai kematangan biologis (khususnya kematangan alat reproduksi yaitu pertumbuhan endometrium masih belum sempurna) dan psikologis. Dismenore primer biasanya mulai pada saat siklus telah menjadi ovulasi dalam tahun-tahun usia reproduksi dan siklus reguler (William F. Rayburn, 2001:311). Puncak umur insiden wanita yang mengalami dismenore adalah 20 sampai 24 tahun ( Neville F. Hacker, 2001: 363). Frekuensi nyeri akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan (Llewellyn, 2001).
2) Status Perkawinan
Perempuan yang sudah kawin memiliki resiko nyeri saat menstruasi yang lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang belum kawin. Hal ini karena perkawinan membawa perubahan fisiologik pada genetalia maupun perubahan fisiologik pada genetalia maupun perubahan psikis pada wanita yang sudah menikah (Galya Junizar, 2001).
3) Paritas
Pada umumnya kram menstruasi berat yang sering terjadi pada wanita muda sering menghilang setelah kehamilan pertama (William F. Ganong, 2002).
Etiologi
Penyebab utama dismenore primer adalah adanya prostaglandin F2a (PGF2a) yang dihasilkan di endometrium. PGF2a merupakan hormon yang diperlukan untuk menstimulasi kontraksi uterus selama menstruasi (Helen Varney, 2008:341). Terdapat beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenore primer, antara lain :
1) Faktor Kejiwaan
Pada gadis-gadis remaja yang secara emosional tidak stabil, jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, maka timbul dismenore (Hanifa Wiknjosastro, 2005:230). Ketidaksiapan remaja putri dalam menghadapi perkembangan dan pertumbuhan pada dirinya tersebut, mengakibatkan gangguan psikis yang akhirnya menyebabkan gangguan fisiknya, misalnya gangguan haid seperti dismenore (Hurlock, 2007).
2) Faktor Konstitusi
Faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor kejiwaan, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti anemi, penyakit menahun, dan sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya dismenore (Hanifa Wiknjosastro, 2005:230).
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenore primer adalah stenosis kanalis servikalis. Pada wanita dengan uterus hiperantefleksi mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis. Akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap sebagai penyebab dismenore. Banyak wanita menderita dismenore hanya karena mengalami stenosis kanalis servikalis tanpa hiperantefleksi posisi uterus. Sebaliknya terdapat wanita tanpa keluhan dismenore walaupun ada stenosis kanalis servikalis dan uterus terletak hiperantefleksi (Hanifa Wiknjosastro, 2005:230).
4) Faktor Endokrin
Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenore primer karena kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin erat hubungannya dengan keadaan tersebut. Ketika endometrium dalam fase sekresi akan memproduksi hormon prostaglandin yang menyebabkan kontraksi otot polos. Jika hormon prostaglandin yang diproduksi banyak dan dilepaskan di peredaran darah, maka selain dismenore, dijumpai pula efek umum, seperti diare, nausea, muntah, flushing (Hanifa Wiknjosastro, 2005:230).
5) Faktor Pengetahuan
Dalam beberapa penelitian juga disebutkan bahwa dismenore yang timbul pada remaja putri merupakan dampak dari kurang pengetahuannya mereka tentang dismenore. Terlebih jika mereka tidak mendapatkan informasi tersebut sejak dini. Mereka yang memiliki informasi kurang menganggap bahwa keadaan itu sebagai permasalahan yang dapat menyulitkan mereka. Mereka tidak siap dalam menghadapi menstruasi dan segala hal yang akan dialami oleh remaja putri. Akhirnya kecemasan melanda mereka dan mengakibatkan penurunan terhadap ambang nyeri yang pada akhirnya membuat nyeri haid menjadi lebih berat.
Pembagian Klinik Dismenore
Setiap menstruasi menyebabkan rasa nyeri, terutama pada awal menstruasi namun dengan kadar nyeri yang berbeda-beda. Menurut I.G.B. Manuaba (2001:518) dismenore secara klinis dibagi menjadi:
1) Dismenore Ringan
Dismenore yang berlangsung beberapa saat dan klien masih dapat melaksankan aktivitas sehari-hari.
2) Dismenore Sedang
Dismenore ini membuat klien memerlukan obat penghilang rasa nyeri dan kondisi penderita masih dapat beraktivitas.
3) Dismenore Berat
Dismenore berat membuat klien memerlukan istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, migrain, pingsan, diare, rasa tertekan, mual dan sakit perut.
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Silahkan meninggalkan komentar agar saya bisa feedback ke blog agan. :D