<div style='background-color: none transparent;'></div>

Baca Selengkapnya

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Popular Posts

Showing posts with label Usaha Anda. Show all posts
Showing posts with label Usaha Anda. Show all posts

Cara Memelihara Burung Centet(Pentet)

Tuesday, May 21, 2013

Assalamu alaikum Wr. Wb.


Burung Cendet (Burung Pentet) merupakan salah satu burung predator yang memiliki suara variasi isian yang sangat baik. Banyak Kicaumania yang menganggap perawatan burung Cendet ini susah.
Sebenarnya, merawat burung Cendet sama mudahnya dengan merawat burung berkicau jenis lain. Burung Cendet adalah burung cerdas dari keluarga Turdidae.
 
Cetet

KARAKTER DASAR BURUNG CENDET
  1. Ganas apabila lapar. Burung Cendet akan berlaku agresif apabila lapar. 
  2. Petarung yang memiliki teritorial. Apabila mendengar suara burung lain atau melihat burung sejenis, maka semangat tempurnya langsung berkobar.
  3. Birahi yang cenderung mudah naik. Burung Cendet sangat mudah naik birahinya, banyak penyebab yang dapat membuat naiknya birahi pada burung jenis ini. Stelan EF (Extra Fooding) yang over, penjemuran yang berlebih atau melihat burung Cendet lain, dapat dengan cepat menaikkan tingkat birahinya.  
  4. Mudah jinak. Karena kemampuan beradaptasinya yang tinggi, maka burung ini mudah jinak kepada manusia.

PEMILIHAN BAHAN BURUNG CENDET YANG BAIK
(CIRI-CIRI BURUNG CENDET YANG BAIK DARI KATURANGGAN)

 
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan atau bakalan pada burung Cendet.

  1. Berkelamin jantan, ciri-ciri burung Cendet jantan dapat dilihat warna bulu yang tegas mengkilap dan kontras. 
  2. Bentuk paruh, sebaiknya pilih bentuk paruh yang berpangkal lebar, tebal, besar dan panjang. Paruh bagian bawah cenderung lurus. Jangan memilih bahan yang memiliki paruh bengkok. Posisi lubang hidung pilih sedekat mungkin dengan posisi mata. 
  3. Kepala besar, mata bulat besar dan melotot. Ini menandakan burung ini mempunyai mental tempur yang baik. 
  4. Postur badan, pilihlah bahan yang berpostur sedang dengan panjang leher, badan dan ekor serta kaki yang serasi. Jangan memilih bahan yang berleher dan berbadan pendek. 
  5. Sayap mengepit rapat dan kaki mencengkram kuat, ini menandakan bahan tersebut sehat. Pilihlah Kaki yang besar dan terlihat kering. Warna kaki tidak berpengaruh terhadap mental burung. 
  6. Lincah dan bernafsu makan besar. Ini merupakan ciri-ciri bahan yang bermental baik.   
  7. Leher panjang padat berisi. Menandakan burung ini akan mengeluarkan power suara secara maksimal.

MAKANAN YANG SESUAI UNTUK BURUNG CENDET

Voer (sebaiknya pilih yang berkadar protein sedang yaitu: 12%-18%, belum tentu Voer yang berharga mahal akan cocok dengan sistem metabolisme setiap burung Cendet. Voer harus selalu tersedia didalam cepuknya. Selalu ganti dengan Voer yang baru setiap dua hari sekali.


cetet
EF (Extra Fooding), pakan tambahan yang sangat baik buat burung Cendet yaitu: Jangkrik, Orong-orong, Kroto, Cacing, Ulat Hongkong, Ulat Bambu, Kelabang, Belalang dan lainnya. Pemberian EF harus selalu disesuaikan dengan karakter pada masing-masing burung dan juga harus mengetahui dengan pasti dampak klausal dari pemberian EF tersebut.

PERAWATAN DAN STELAN HARIAN BURUNG CENDET

Perawatan harian untuk burung Cendet relatif sama dengan burung berkicau jenis lainnya, kunci keberhasilan perawatan harian yaitu rutin dan konsisten.

Berikut ini Pola Perawatan Harian dan Stelan Harian untuk burung Cendet:

  • Jam 07.00 burung diangin-anginkan di teras. Jam 07.30 burung dimandikan (karamba mandi atau semprot, tergantung pada kebiasaan masing-masing burung).
  •  Bersihkan kandang harian. Ganti atau tambahkan Voer dan Air Minum. 
  • Berikan Jangkrik 4 ekor pada cepuk EF. Jangan pernah memberikan Jangkrik secara langsung pada burung. 
  • Penjemuran dapat dilakukan selama 1-2 jam/hari mulai pukul 08.00-11.00. Selama penjemuran, sebaiknya burung tidak melihat burung sejenis. 
  • Setelah dijemur, angin-anginkan kembali burung tersebut diteras selama 10 menit, lalu sangkar dikerodong. 
  • Siang hari sampai sore (jam 10.00-15.00) burung dapat di Master dengan suara Master atau burung-burung Master. 
  • Jam 15.30 burung diangin-anginkan kembali diteras, boleh dimandikan bila perlu. 
  • Berikan Jangkrik 2 ekor pada cepuk EF. 
  • Jam 18.00 burung kembali dikerodong dan di perdengarkan suara Master selama masa istirahat sampai pagi harinya.
PENTING

  • Kroto segar diberikan 1 sendok makan maksimal 2x seminggu. 
  • Pemberian Cacing diberikan 1 ekor 2x seminggu. 
  • Berikan Vitamin dan Mineral yang dicampur pada air minum seminggu sekali saja.
PENANGANAN APABILA CENDET OVER BIRAHI

  • Pangkas porsi Jangkrik menjadi 2 pagi dan 2 sore. 
  • Berikan Cacing 2 ekor 2x seminggu. 
  • Berikan Ulat Bambu 2 ekor 3x seminggu. 
  • Frekuensi mandi dibuat lebih sering, misalnya pagi-siang dan sore. 
  • Lamanya penjemuran dikurangi menjadi 30 menit/hari saja. 
  • Mandi malam.
PENANGANAN APABILA CENDET KONDISINYA DROP
  • Tingkatkan porsi pemberian Jangkrik menjadi 5 pagi dan 5 sore. 
  • Tingkatkan porsi pemberian Kroto menjadi setiap hari. 
  • Berikan Kelabang 2 ekor seminggu sekali. 
  • Mandi dibuat 2 hari sekali saja. 
  • Burung segera diisolasi, jangan melihat dan mendengar burung Cendet lain dahulu. 
  • Lamanya penjemuran ditambah menjadi 2-3 jam/hari. 
  • Berikan Vitamin dan Mineral.


Semoga dapat bermanfaat salam " Frenshilgo "
Continue Reading | komentar

Cara Membuat Media Hidup Buat Cacing Tanah

Tuesday, January 22, 2013

Assalamu alaikum Wr. Wb.





Berikut proses pembuatan media:
  1. Sediakan kotoran hewan (sapi) dan salah satu bahan campuran (serbuk gergaji, ampas tahu, tepung tapioka, atau tetes tebu). Semua bahan dicampurkan dan menunggu selama minimal 1 minggu untuk difermentasi.
  2. Aduk seluruh bahan dan tambahkan sedikit air.
  3. Masukkan bahan dalam wadah untuk difermentasikan, bisa menggunakan wadah plastik atau karung goni. 
  4. Buat lubang kecil-kecil di sekeliling karung agar udara bisa masuk. Waktu fermentasi kurang lebih 5-7 hari. Agar proses fermentasi lebih cepat campurkan pula bioaktivator pengurai pada media sebelum masuk kantong fermentasi.
  5. Setelah 7 hari, keluarkan media dari bak fermentasi.
  6. Campur media tadi dengan pakan cacing dan masukkan campuran tadi dalam wadah budidaya cacing tanah hingga ketebalan 20-25 cm, selanjutnya cacing tanah bisa ditebar.




Semoga dapat bermanfaat salam " Frenshilgo "


Baca Selengkapnya: http://www.klutik.com/2013/01/media-budidaya-cacing-tanah-merupakan.html
Continue Reading | komentar (2)

Budidaya Cacing Tanah Lumbricus

PENDAHULUAN
  • Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta dan hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). 
  • Hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.
  • Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakkan antara lain : Pheretima, Perionyx, dan Lumbricus
  • Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih, jumlah segmen sekitar 27-32. 
  • Cacing jenis Lumbricus  memiliki keunggulan lebih dibandingkan kedua jenis cacing yang lain diatas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan. produksi telur / anakan dan produksi bekas cacing "kascing" serta tidak banyak bergerak.
MANFAAT

  • Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi lebih baik. 
  • Cacing tanah dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak. Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
  • Cacing tanah dapat digunakan sebagai obat serta bahan kosmetik.


PERSYARATAN LOKASI

  • Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
  • Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati.
  • Untukpertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau pH sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
  • Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah antara 15-30 %.
  • Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing dan penetasan kokon adalah kurang lebih 15-25 derajat celcius. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat celcius masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
  • Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya dibawah pohon rindang, ditepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.

PERSYARATAN MEDIA
  • Bahan Organik Yang Sudah Mengalami Pelapukan Antara 50-65%
  • Tidak Mengeluarkan Gas Methan
  • Media Selalu Gembur/ Tidak Padat
  • Mudah Terurai / Terdekomposisi
  • Tidak Mengandung Obat Cacing
  • Tidak Mengandung Kapur Atau Pembunuh Kuman Lainnya
  • Bisa memanfaatkan: 1.Kotoran Sapi, 2.Kotoran Kambing, 3.Ampas Aren, 4.Ampas Tebu, 5.Sampah Sayuran, 6.Sebuk Gergaji, 7.Jerami Padi, 8.Limbah Perkebunan:Sawit, Jagung Dll

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

  • Siapkan Media Dalam Satu Wadah Dengan Perbandingan 5kg : 1kg Cacing
  • Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk, dan genteng tanah. 
  • Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1.5 x 1.8 m. 
  • Di dalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan.
  • Model-model sistem budidaya antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar.
  • Pastikan media dalam keadaan lembab dan sudah tidak mengandung gas metan atau sudah dingin. atau sudah pengalami pembusukan sebanyak 60%, 



Tempat budidaya cacing 
2. Pembibitan
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.

1). Pemilihan Bibit Calon Induk
Dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah besar. Anda bisa memilih antara bibit cacing induk/sudah dewasa maupun Kokon / Cocoon (Telur Cacing).



CIRI-CIRI BIBIT CACING YANG BAIK
  • Sudah Dewasa, Berusia 2,5 – 3 Bulan Sejak Menetas
  • Sudah Memiliki Klitelum
  • Berukuran Sekitar 8 – 14 Cm
  • Tidak Berair/ Berlendir
  • Tidak Berbau

Telur cacing


2. Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara :

  • Pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran 2.5x1x0.3 m dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
  • Pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dapat dipindahkan ke bak lain.
  • Pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa dipindah ke bak lain.
  • Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
3. Sistem Pembiakan
  • Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. 
  • Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukkan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. 
  • Beberapa bibit cacing tanah diletakkan diatas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk kedalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan.
  • Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau meninggalkan media (wadah). 
  • Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya, bila media tidak cocok cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. 
  • Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau kecoklatan).

3. Pelepasan Bibit 
  • Setelah media siap, masukan cacing dengan cara ditabur diatas media tadi, agar cacing menyebar tidak menumpuk disatu tempat. 
  • Biarkan cacing masuk sendiri, jangan diaduk atau dimasukan ditengah media
  • Setelah beberapa saat, cacing akan masuk kedalam media jika medianya sudah bagus/dingin, dan cacing yang lemas karena perjalanan tidak akan masuk kedalam media, dia akan tetap ada diatas media
  • Cacing yang lemas diambil dan dipisahkan media ternaknya, jika mati kasihkan ke ternak atau dibuang.
  • Berikan pakan setiap sore hari, karena umumnya cacing makan pada malam hari. 
PEMELIHARAAN

1. Pemberian Pakan

Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah ditanam. Misalnya yang ditanam 1 kg, maka pakan yang harus diberikan juga 1 kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :

  • Pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
  • Bubur pakan ditaburkan rata diatas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
  • Pakan ditutup dengan plastik, karung, atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
  • Pemberian pakan berikutnya apabila masih tersisa pakan terdahulu harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
  • Bubur pakan yang akan diberikab pada cacing tanah mempunyai perbandingan 1:1.
2. Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan atau ditumbuhkan pada media baru. Rata-rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 minggu.


PEMANENAN

Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomass (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
  1. Menggunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul dibagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya.
Dengan cara membalikkan sarang (Cini merupakan cara yang paling ekonomis). Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan dipisahkan cacing yang tertinggal. Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah 
pemeliharaan yang baru serta kascingnya siap dipanen. 

CARA MEMBERI PAKAN
  1. Ambil bahan untuk pakan ternak cacing, misalnya : kotoran sapi atau ampas singkong atau ampas tahu
  2. Masukan ke dalam ember atau wadah
  3. Tambahkan air dan aduk, tambahkan airnya sampai campuran seperti bubur kekentalannya
  4. Setelah adonan siap, siramkan diatas media, dengan cara bergaris. Tidak usah diaduk (lihat gambar)
  5. Tambahkan pakan 2-3 hari kemudian, atau jika sudah terlihat habis. 





Semoga dapat bermanfaat salam " Frenshilgo "
Continue Reading | komentar (1)
 
Copyright © 2011. Frenshilgo . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger